Berdiri Dengan Nama Raja Garuda Mas, Perusahaan Ini Merintis Sumber Energi Terbarukan

Sukanto Tanoto adalah seorang pendiri bisnis besar bernama Royal Golden Eagle (RGE) pada tahun 1973. Ia memulai bisnisnya dari toko kecil yang menyediakan suku cadang, hingga ia menjadi seseorang yang berhasil seperti saat ini. Suksesnya tersebut yang menjadikan RGE sebagai bisnis grup yang berbasis di Singapura. Selain itu, RGE telah memiliki aset-aset lebih dari 18 miliar US dolar dan memiliki pekerja sebanyak 60.000 orang dari berbagai Negara. Selain itu juga, ia sudah memiliki banyak penghargaan yang sudah ia dapatkan dari hasil jerih payahnya selama ini. Penghargaan tersebut didapat karena ia sukses menciptakan sistem perusahaan sumber daya berbasis konsep terbarukan.

Royal Golden Eagle memiliki anak perusahaan yang mengelola minyak kelapa sawit dan terbesar di Asia dengan kapasitas produksi pertahunnya mencapai 1 juta ton bernama Asian Agri. Asian Agri menjadi skala besar yang beberapa diantaranya telah turut mengolah limbah pabrik menjadi sumber energi listrik. Raksasa sawit yang beroperasi di Sumatera Utara, Jambi, dan Riau itu hingga 2020 menargetkan pembangunan pabrik biogas sebanyak 20 unit, dengan nilai investasi mencapai 94 juta dollar AS.

Karena komitmennya untuk untuk mendukung pengadaan energi terbarukan, Asian Agri mendapatkan apresiasi Pemerintah Indonesia dalam acara penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017. Penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017 kategori Perusahaan terbanyak membangun PLTBg diberikan kepada Head of Mill and Engineering Asian Agri. Penghargaan ini juga menunjukan bahwa Asian Agri memiliki komitmen tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan mengimplementasikan teknologi yang dapat mengolah limbah sawit menjadi energi terbarukan biogas untuk membantu suplai listrik di wilayah sekitarnya.

Di tahun 2015, Asian Agri sudah membangun lima pabrik biogas untuk mereduksi gas rumah kaca. Pabrik sawit yang mengeluarkan limbah itu ditangkap oleh methan capture kemudian diolah untuk menghasilkan listrik. Di antaranya, di Jambi baru ada satu pabrik biogas dan empat pabrik biogas lainnya ada di Riau dan Asahan masing masing dua unit. Untuk pabrik di Jambi merupakan pabrik biogas pertama yang beroperasi dari perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pada satu pabrik biogas dengan kapasitas 60 ton per jam bisa menghasilkan energi listrik sebesar 2 megawatt (MW), potensi listrik yang dihasilkan sebesar 2 MW tersebut mampu untuk menerangi 2.000 rumah. Kebutuhan listrik di pabrik sawit sendiri tak lebih dari 700 kilowatt sehingga masih ada sisa atau kelebihan listrik (excess power) sebesar 1,3 MW. Data Kementerian ESDM mencatat panasbumi memiliki potensi hingga 29,5 GW, namun baru termanfaatkan sebesar 1,44 GW (5 persennya). Dan itulah sejak berdiri dengan nama Raja Garuda Mas, perusahaan ini merintis sumber energi terbarukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *