4 Faktor yang Menyebabkan Pengajuan KTA Ditolak

Siapapun pastinya gak suka dengan penolakan. Coba deh diingat-ingat, mungkin pas jaman sekolah dulu, kita pernah nembak seseorang terus ditolak. Setelah itu, pasti mood langsung berantakan, sering ngelamun, sampe sering ngelamun. Ditolak karena cinta monyet aja bisa bikin galau  berkepanjangan, gimana kalau ditolak bank ketika kita lagi butuh pinjaman? Gak cuma sekali dua kali lagi, tapi berkali-kali. Apalagi kalau pengajuan KTA kita buat ngembangin bisnis. Harus kuat-kuat mental deh kalau mau jadi pebisnis!

Biasanya pengajuan KTA ditolak oleh bank karena calon nasabah gak memenuhi persyaratan. Tapi yang sering jadi masalah, pihak analis bank gak akan ngasih tau persyaratan mana yang kurang. Calon nasabah ujung-ujungnya cuma bisa nebak bagian mana yang salah dari aplikasi pengajuan mereka. Nah daripada cuma menebak-nebak, ada baiknya pelajari dulu syarat-syarat pengajuan yang diminta bank, dan sering jadi penyebab utama aplikasi KTA seseorang ditolak.

Skor kredit buruk
Skor kredit adalah rating performa kredit seseorang di lembaga keuangan. Skor kredit diberikan berdasarkan proses BI Checking, yaitu proses penelusuran riwayat kredit yang ada di Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia. Skor kredit seseorang bakal dijadiin acuan oleh lembaga pinjaman buat nentuin apakah pengajuan kredit layak disetujui atau ditolak. Gak cuma itu, besaran nominal pinjaman, tenor yang dikasih, dan bunga yang dikenakan juga ditentuin dari skor kredit. Kalau hasil skor kredit buruk, kemungkinan bank bakal nolak pengajuan kita.

Gak memenuhi syarat minimal
Hampir semua bank punya beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi, misalnya seperti gaji minimal. Beberapa bank mensyaratkan gaji bulanan minimal sebesar Rp3juta per bulan atau Rp36 juta per tahun. Kalau kurang dari itu, kemungkinan bank gak bakal memproses pengajuan kita. Selain syarat gaji minimal, bank biasanya juga ngasih syarat kepemilikan kartu kredit. Skor BI Checking yang dijadiin acuan oleh bank itu didapetin dari rekaman riwayat kredit kita. Nah, terus riwayat kredit yang direkam itu dari mana? Dari transaksi kartu kredit atau fasilitas kredit yang pernah dipakai.

Tanpa transaksi kredit, bank bakalan susah buat ngeliat kemampuan bayar calon nasabah. Makanya kalau mau ajuin KTA, seenggaknya kita harus punya transaksi kredit, misalnya lewat kepemilikan kartu kredit, atau kredit instan online kayak Kredivo.

KTA emang dikenal sebagai produk pinjaman tanpa jaminan yang salah satu prosesnya membutuhkan kepemilikan kartu kredit. Tapi seiring perkembangan inovasi kredit, muncul KTA tanpa kartu kredit yang prosesnya lebih cepat, syaratnya mudah, bahkan tanpa survei dan pengajuannya online seperti Kredivo. Ngajuin kta tanpa kartu kredit untuk beli kebutuhan bisnis mulai dari elektronik, sampai pulsa dan kuota jauh lebih mudah melalui Kredivo karena lebih praktis dan sangat mudah.

Dokumen kurang lengkap

Saat ngajuin KTA, ada dokumen yang harus diserahin seperti KTP, slip gaji, dan NPWP. Dokumen tersebut juga harus tervalidasi. Bank bakal menolak dokumen yang diduga palsu atau udah habis masa berlakunya. Misalnya KTP yang udah gak berlaku lagi, atau slip gaji bukan berasal dari perusahaan tempat bekerja saat ini. Nah, keuntungan lain kalau kita pilih KTA tanpa kartu kredit dari Kredivo, kita gak perlu was-was dengan hal satu ini. Soalnya, semua proses verifikasi di Kredivo dilakukan oleh sistem yang canggih. Kita tinggal download aplikasinya dan ikutin instruksi pendaftaran sesuai dengan metode kredit yang dipilih. Gak perlu kirim banyak dokumen dan melewati proses survei!

Terlalu banyak cicilan

Walaupun semua persyaratan di atas berhasil dilewatin, bank akan mempertimbangkan lagi kalau kita punya cicilan lain yang sedang berjalan. Misalnya gaji kita Rp7 juta, dan kita punya cicilan sebesar Rp2 juta per bulannya. Cicilan itu udah menggerus 30% dari gaji bulanan. Kondisi ini juga bisa berpengaruh dengan pengajuan kita karena bank akan menganggap kita sebagai nasabah yang berisiko. Maka dari itu sebelum ngajuin KTA, coba fokus buat lunasin semua utang sebelum ngambil utang baru. Sebisa mungkin batasi jumlah cicilan sebesar maksimal 30% per bulan, karena jumlah tersebut masih dianggep sehat buat keuangan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *